img1431930973914trie

Pulaunya mah biasa aja cuman yang bikin luar biasa itu pasir putihnya yang puaanjaaang, ada kampung tuanya, ada nelayan yang sering bawa ikan besar-besar, kalo beruntung bisa dapet sunset yang keren

Sepotong kenangan yang bisa saya berikan ke teman-teman yang memang mau sekali menyambangi pulau terluar dari propinsi Lampung. Namanya Pulau Pisang berada di Kab. Pesisir Barat, 230 km dari kota Bandar Lampung atau +/- 6 jam berkendaraan roda 4.

Keinginan yang sangat besar untuk ke pulau itu berujung pada kesimpulan membuat perjalanan yang tidak biasa yaitu motor touring dan berkemah di daerah wisata. Dengan tidak memaksakan jenis motor, akhirnya terbentuklah rombongan dengan jumlah 10 orang dan 6 buah motor berbagai jenis ada yang matic, bebek dan motor besar.

Tim mulai perjalanan dari Bandar Lampung menuju jalur lintas sumatera kearah Kotabumi, Bukit Kemuning, Sumber Jaya, Liwa dan bermalam di Danau Ranau yang berada di Oku Selatan. Dan keesokan harinya tim hanya menikmati kota Liwa dan bermalam di Bumi Perkemahan yang berada di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Semua tempat yang kami singgahi memiliki cerita masing-masing dan kenangan lucu sampai yang mengharu biru.. hehe..

Sebelum menyebrang ke Pulau Pisang, kita bisa memilih dermaga atau pos penyebrangan yang bisa mengantar kita ke seberang. Ada dua tempat penyebrangan ke pulau tersebut, dermaga Kuala Stabas yang ada dekat dengan pasar Krui dan Pantai Tembakak yang berada di barat menuju jalur lintas ke Bengkulu. Dari dermaga Kuala Stabas kita bisa menyeberang ke pulau hanya di jam 10.00 wib dan ditempuh selama 2 jam perjalanan. Atau menyebrang dari dermaga Pantai Tembakak dengan jarak tempuh 20 menit dan hanya jam 09.00 wib setiap harinya.

Selain waktu, apa yang menjadi perbedaan 2 dermaga itu?

1. Kuala Stabas berada di dekat pusat kota Krui, sedangkan pantai Tembakak sedikit jauh dari Krui.

2. Ombak dari dermaga Kuala Stabas cenderung lebih tenang dibanding ombak di Pantai Tembakak

3. Bonus kalau kita beruntung pulang dari pulau pisang pagi hari menuju Kuala Stabas adalah kita bisa di hadiahin sekawanan lumba-lumba yang sedang berpindah.

Kami memilih untuk menyeberang dari dermaga Kuala Stabas, dikarenakan lebih dekat dengan pasar Krui walaupun waktu tempuh cukup lama. Dan sesampainya di pulau pisang, kami di hadiahi langit yang biru, pasir pantai yang luas dan air laut yang sedang surut. Tak sabar rasanya ingin berenang di lautan pulau ini, tapi kami harus bergegas untuk menemui seseorang yang tinggal di perkampungan.

Bang Jhon

Siapa yang tidak kenal dengan dia? karena dari sekian banyak penghuni yang ada di pulau ini, hanya bang Jhon dan pak Lurah saja yang menerima tamu untuk sekedar bermalam dan menikmati pulau ini. Ada wisma yang nyaman dan cottage besar khusus untuk wisatawan asing karena pemiliknya memang WNA dari Australia tetapi dikelola oleh bang Jhon. Bang Jhon dan istrinya sering menerima tamu yang ingin bermalam, jadi beliau sangat pandai menjamu tamu-tamunya. Dimulai dari tempat tinggal yang nyaman, minuman kopi khas Lampung, makanan rumahan yang enak dan bila kita mau makanan khas seperti pindang taboh dari ikan kerapu macan, sup kepala ikan tuhuk (blue marlin) dan banyak lagi. Kitapun bisa di antar dan jemput dari dermaga Kuala ataupun antar jemput Bandar Lampung – Krui.

Karena perjalanan ini bernuansa alam, maka kami memutuskan berteduh dan bermalam di gazebo milik bang Jhon yang berlokasi persis di depan rumahnya. Dekat dengan pasir pantai pulau ini, membuat kami tak sabar untuk bermain dengan ombak dan menikmati sore di pasir putihnya.

Pasir pantai putih yang luas

Kebetulan sekali saat ini tinggi air permukaan laut sedang surut, sehingga kita bisa bermain ombak di bawah dermaga beton yang ada di pulau ini. Berfoto ria sepertinya menjadi keharusan dalam setiap perjalanan dan di buat se heboh mungkin supaya menjadi kenangan yang tidak cepat terlupakan. Dimulai dari atas dermaga, lalu di bawah dermaga, pindah ke tengah lautan, trus foto bersama ombak dan pasir putihnya. Di pantai ini terdapat beberapa perahu nelayan yang bersandar sebelum mereka pergi bernelayan dan pasir pantai yang halus membuat kita makin berlama lama untuk sekedar bermain disini. IMG_2986_1 DSCN9248_resize_1
DSCN9250_resize_1DSCN9266_resize_1touring_04_1 IMG_3114_1 Sunset

Matahari terbenam tidak selamanya indah, terkadang di selimuti awan yang tipis sampai awan mendung yang tebal. Tetapi jangan bergegas untuk meninggalkan sang matahari, karena bias sinarnya masih tertinggal di langit membuat lukisan langit yang dramatis. Tidak cuma sunset, kita bisa mendapatkan sunrise yang tidak kalah indahnya. Hanya dengan bergegas untuk bangun lebih pagi dan berjalan ke ujung timur pulau ini, kita bisa mendapatkan sunrise yang indah. IMG_3120_1 DSCN9287_resizeDSCN9299_resize_1 DCIM100MEDIA DCIM100MEDIADSCN9316_resize_1_1 Untuk menikmati pulau rasanya tidak cukup hanya 1 malam, karena banyak sekali keunikan dan peninggalan kampung tua serta bila kita mau berkeliling kampung dan perkebunan yang ada di pulau ini. Ada juga pengrajin tenun kain tapis khas pulau Pisang yang menjadi salah satu usaha kerajinan dan mata pencaharian penduduk pulau ini.

Akan tetapi perjalanan kami masih berlanjut untuk kembali ke Bandar Lampung, sehingga kami sudahi menikmati pesona alam yang sangat indah dan selalu meninggalkan kenangan terindah bagi kami bisa sampai ke pulau yang menjadi salah satu tujuan wisata di propinsi Lampung.. (tri)

Iklan