margasari_11

Mengunjungi hutan mangrove terkadang terdengar biasa saja dan mungkin tidak mendapatkan pemandangan yang indah. Wisata ke hutan mangrove pastinya tidak semenarik bila kita mengunjungi pantai, pulau ataupun wisata alam lainnya. Di hutan mangrove kita hanya bisa menikmati beragam jenis tanaman yang kita sering kenal dengan puhon bakau. Hutan mangrove yang kami kunjungi ini mungkin berbeda dengan hutan mangrove yang ada di tempat lain.

Berlokasi di desa Marga Sari kabupaten Lampung Timur, hutan mangrove disini memiliki 2 jenis tanaman yaitu mangrove jenis siapi-api dan rhizopora. Walaupun berbeda jenis tetapi memiliki fungsi yang sama terhadap lingkungan dan daratan.  Mendengar cerita dari salah satu warga yang mengawali adanya hutan mangrove ini, rasanya sedikit membanggakan namun mengharukan juga. Ada dilema dibalik perjuangan mempertahankan kawasan ini dengan kepentingan pribadi maupun golongan.

margasari_01

Jpeg

Hutan mangrove yang di mulai sejak tahun 1995 lalu di kelola serius oleh lembaga penelitian dari Jepang dan dari Indonesia diwakili oleh Universitas Lampung pada tahun 2003 menghasilkan hutan mangrove dengan lebar +/- 1 km dan panjang mencapai +/- 5 km. Sehingga masyarakat sekitar mendapatkan berbagai macam manfaat antara lain kebutuhan air tawar dan terjaganya daratan dari pengikisan air laut.

Jpeg

Menyusuri sungai yang bermuara ke lautan bisa kita lakukan dengan menggunakan sampan kecil dan hanya bisa di waktu pagi hari atau pada saat air laut pasang. Sekilas kita melihat kawasan ini seperti hamparan sungai yang tenang, akan tetapi pada siang hari atau air surut berubah menjadi hamparan rawa yang luas sekali. Dipinggir sungai terdapat beberapa kawanan burung berwarna putih yaitu burung bangau dan burung kuntul. Kawanan ini tinggal dan berkembang biak di atas pohon mangrove dan mendapatkan sumber makanan dari berbagai jenis ikan yang hidup di bantaran sungai ini. Di pinggiran akar pohon bakau kita bisa jumpai banyak kepiting dan ikan belodok.

margasari_15

margasari_14

Agak aneh mendengar nama ikan belodok dan setelah melihat lebih dekat, ternyata ikan ini hidup di darat dan sesekali bersembunyi di dalam air sama persis dengan hewan kodok. Bentuk badannya mirip sekali dengan ikan gabus dengan mata yang melotot(belo) dan berjalan di tanah-tanah rawa yang sedang surut.

img1432267655808

Universitas Lampung sebagai lembaga penelitian hutan mangrove menjadikan kawasan ini sebagai lokasi Praktek Kerja Lapangan bagi mahasiswanya yang mengambil mata kuliah Manajemen Hutan Mangrove fakultas Kehutanan. Dan sebagai wujud pengabdian masyarakat, Unila membangun Lampung Mangrove Center yang berfungsi sebagai pusat pengkajian dan kini sudah berkembang sebagai tempat taman bacaan bagi masyarakat desa Marga Sari. Karena pendidikan sangat penting baik akademis maupun non akademis yang bertujuan untuk mencerdaskan bangsa.

Mempertahankan hasil yang sudah dicapai memang lebih membutuhkan perjuangan dan kekuatan daripada baru membangun. Kepentingan orang banyak memang harus diatas kepentingan pribadi ataupun golongan. Semoga penerus dari masyarakat di desa ini mampu mempertahankan hutan mangrove yang sudah ada ini.. (tri)

Iklan