Atap pura khas pulau dewata Bali
Atap pura khas pulau dewata Bali

Siapa yang tidak kenal dengan pulau dewata Bali, pulau yang tidak pernah berhenti untuk didatangi wisatawan asing dan lokal. Pulau yang memiliki daya tarik khas ornamen tradisional,  pesona wisata alam dan pantai yang indah. Dan tak kalah menariknya adalah wisata belanjanya yang murah meriah dan tidak dijual sembarang tempat.

Kali ini saya kembali ke pulau ini untuk yang ketiga kalinya dan dengan cara yang murah meriah serta efisiensi jadwal berkunjung di setiap tempat wisata disini. Saya bersama 4 orang lainnya kebetulan mendapatkan promo tiket penerbangan yang murah cuma 450 ribu ( tiket pergi pulang ). Kesempatan yang langka ini kami manfaatkan sekali untuk berlibur dengan budget murah meriah.

Keberangkatan kami dimulai dari Bandar Lampung malam hari menuju Bandung via Damri Patas dan berhenti tepatnya di depan stasiun Kebon Kawung. Saya dan 2 teman lainnya berangkat lebih dahulu dan 2 teman kami lainnya menyusul 2 hari kemudian. Perjalanan ke pulau Jawa seperti biasanya menyebrangi selat sunda dengan kapal Roro dari pelabuhan Bakauheni dan sesampainya di pelabuhan Merak, bis langsung bergegas berjalan via tol Cikampek dan tol Cipularang menuju kota Bandung.

Hari Pertama

Jam 07.00 wib tibalah kami di pos Damri yang ada di jl. Kebon Kawung persis depan stasiun kereta Kebon Kawung. Kamipun segera membersihkan diri dan mencari makanan sarapan pagi sambil menunggu jadwal penerbangan jam 12.30 wib. Sesuai rencana, kami menghabiskan waktu dengan berkunjung daerah Jl. Braga dan gedung Museum Asia Afrika. Jarak dari stasiun ke daerah Braga ini cuma 2 km, jadi kami putuskan berjalan kaki saja karena kata seorang supir jika naik angkot malah lebih lama. Jalanan ini banyak yang 1 arah, sehingga kendaraan angkot banyak yang memutar dan pasti macet.

Satu bagian dari jl. Braga
Satu bagian dari jl. Braga

Daerah Braga ini akan ramai dari petang hingga larut malam, karena daerah ini banyak cafe, bar, resto, galeri, hotel dan penginapan backpacker. Dan pengunjungnya rata-rata adalah wisatawan asing. Braga memiliki banyak bangunan tua yang masih digunakan dan kesan kota tua cukup kental, walaupun masih banyak kota-kota tua lainnya di kota Bandung ini.

Kami menyempatkan diri untuk masuk ke dalam museum Asia Afrika, dimana gedung ini pernah menjadi tempat pertemuan negara-negara yang ada di benua Asia dan Afrika untuk melakukan konferensi serta kerjasama antar negara. Gedung ini meninggalkan beberapa arsip dan dokumentasi tentang proses pelaksanaan konferensi, serta benda-benda bersejarah lainnya. Kebetulan sekali bersama kami ada rombongan study tour pelajar smp dan sma yang menyempatkan berkunjung kesini.

Oiya.. waktu sudah mendekati jam penerbangan, kamipun bergegas menuju bandara Husein Sastranegara. Karna jarak ke bandara cukup jauh dan membawa tas cukup berat, kami putuskan untuk naik taksi saja biar cepat sampai.

Check in sudah, cek barang buat masuk kabin sudah, nunggu pesawat parkir sudah dan nggak lama akhirnya kami berangkat juga menuju pulau Bali.

Setelah 2 jam diatas awan akhirnya pesawat mendarat juga di Bandara Ngurah Rai. Tidak terlalu banyak penumpang ataupun pengunjung di bandara ini, mungkin bukan jadwal weekend. Kami langsung keluar menghindari para agen taksi, travel, tukang ojek dan agen lainnya menuju tempat makan dan berharap ada supir-supir tembak yang galau dan kadang banting harga ongkos tarifnya. Bersyukurlah kami ada orang yang sengaja iseng buat cari teman jalan pulang ke arah Pantai Kuta, dengan ongkos yang murah karena alasan harus kembali ke kantor travel. “Tadi saya baru selesai anter tamu mas, mau pulang mobil kosong, 70rb bertiga aja deh. Saya gk cari penumpang lagi koq mas..” . Baiklah.. lanjutt.. Kita mau cari penginapan yang murah dekat pantai Kuta dan Legian. Di sekitar jalan poopies banyak penginapan murah antara 80rb-200rb smalam. Karena besok sudah berpindah tempat kami hanya menginap 1 malam di daerah ini dan malam ini hanya kami habiskan untuk makan malam di mekdi lalu menikmati angin laut di pantai Kuta.

Hari Kedua

Sebelumnya kami sempatkan untuk mencari penyewaan mobil yang cukup untuk kami bertiga, murah dan irit bensin. Dan pagi ini kami disambut dengan hujan deras.. iyaa.. kitapun terdampar di penginapan sampai hujan berhenti.

Tetapi beruntungnya kami, hujanpun reda bersamaan dengan perut yang kelaparan. Sedangkan di pulau Bali kita tidak mudah untuk mendapatkan makanan yang halal, setidaknya warung makan nasi Padang. Hehe.. Kami memang sengaja menginap hanya 1 malam di daerah ini dan kami akan mencari penginapan yang berdekatan dengan tempat tujuan wisata atau setidaknya mudah mendapatkan fasilitas Masjid dan Makan.

Kami langsung bergerak menuju utara tepatnya daerah Kintamani, berharap hujan berhenti dan masih bisa menikmati beberapa pemandangan yang indah. Tak terasa 2 jam perjalanan kami sampai di dataran tinggi Kintamani dengan pemandangan danau Baturnya. Disini kita hanya bisa memandangi gunung yang diselimuti kabut tebal, para pedaling buah dan sovenir serta baju-baju segala rupa. Karena tidak ada hasil yang cukup menarik, kamipun berjalan lagi dan kini ke arah kota Denpasar.

20140320_151253

Ada info dari teman yang lama tinggal di Bali, kalau di Denpasar kita mudah mendapatkan makanan dan masjid. Berjalan dari arah pasar sukowati menuju pusat kota, kami berhenti di masjid besar yang bersebelahan dengan kantor Polres Denpasar. Lalu saya periksa kembali peta digital dan catatan kecil untuk menemukan titik lokasi kita dan rute menuju daerah terminal Denpasar.

Karna malam semakin larut kamipun bergegas untuk pergi ke sebuah penginapan murah yang berada dekat dengan terminal Ubung Denpasar. Disini terdapat bermacam-macam tipe penginapan, dari yang homestay, hotel mini, hotel keluarga sampai hotel untuk rombongan yang bisa dipakai untuk study tour pelajar. Kamipun berhenti di salah satu sudut jalan yang menyediakan penginapan murah, cuma 80ribu / kamar, 2 tempat tidur, kipas angin dan kamar mandi di dalam.

Hari Ketiga

Jam 5 pagi kami sudah berkemas lagi untuk check out dan bergegas menyambut sunrise yang ada di pantai Sanur +/- 13 km dari kota Denpasar. Pagi ini langit masih belum bersahabat dimana matahari tertutup oleh awan mendung.

20140321_064815

Membeli banyak makanan di mobil harus sering dilakukan ya sobat. Sebab, kalau kita punya permasalahan ketidaknyamanan dengan tempat makan seperti di Bali ini, kita masih bisa mengganjalnya dengan makanan ringan.

Pantai Sanur cukup, kami sudahi dan berpindah rute lagi menuju Pura besar Besakih, pura yang menjadi tempat ibadah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu. Disini kita hanya bisa berjalan mengelilingi pura dan dijinkan masuk bila kita memang mau beribadah/bersembahyang di pura. Bangunan yang cukup tua terlihat dari banyaknya lumut dan jamur di sela-sela bangunan ini. Pura ini akan digunakan khusus untuk perayaan yang sangat besar dan pura inipun memiliki halaman luas yang cukup menampung ratusan umat Hindu yang ada di Bali.

baliku_19

Hari ketiga ini jatuh pada hari jumat, sehingga kami harus mencari masjid yang berada di sekitar jalan raya Besakih. Dan tidak terlalu sulit untuk menemukan masjid disini, namanya Masjid Al Fatah yang berada dekat pusat pasar daerah Semarapura. Masjid 2 lantai dengan jumlah jemaah yang cukup banyak hingga memenuhi 3/4 luas ruangan ibadah.

20140321_132446

Sebenarnya ada warung makan disini yang bisa bilang Halal, tetapi teman-teman masih belum yakin. “Pokoknya cari warung makan yang penjualnya berkerudung ya..” “hehe.. oke dech..”. Lanjutlah kami berjalan ke arah timur dari pulau Bali ini tepatnya menuju Karang Asem. Kota ini bisa dibilang kampung Jawa dan Islam, karena kota ini banyak para pendatang dari pulau Jawa yang beragama Islam. Sebelumnya kami sempat mampir ke pelabuhan Padang Bai, hanya sekedar ingin tahu pelabuhan yang bisa menghantarkan kita sampai ke pulau Lombok, NTB. Sepanjang jalan raya Goa Lawah dan Padang Bai, banyak tempat wisata pantai dan cafe-cafe tempat makan dan toko souvenir. Jenis pasir pantai disini cenderung berwarna gelap, tapi di depan pantainya banyak spot snorkeling dan diving yang bagus.

Kota Karang Asem tidak terlalu besar dan padat seperti kota yang lain serta tata ruang pemukiman yang rapih. Dan akhirnya kami sempatkan makan siang di warung makan yang penjualnya berjilbab sesuai permintaan dan tepat didepan sebuah masjid.

Waktu beranjak sore, perut sudah terisi, sholat Ashar pun sudah, kami bergegas kembali ke kota Denpasar dan menjemput 2 teman kami yang akan mendarat di Bandara Ngurah Rai nanti petang.

Jam 7 malam bandara internasional di Bali ini tidak sepi pengunjung, masih banyak jadwal keberangkatan hingga larut malam. Dan disini pula kami menukar kendaraan sewaan dengan mobil Xenia. Karna mobil sebelumnya hanya cukup 4 orang, apalagi nanti sudah waktunya belanja oleh-oleh, pasti butuh ruang yang lebih besar lagi.

Tips : carilah info tentang penyewaan kendaraan sebelum sampai di Bali, sehingga para pemilik kendaraan sewaan bisa mengantarkannya dimana kita datang. Tempat yang paling mudah ya di Bandara ini.

Teman kamipun tiba dan kami langsung bergegas ke Denpasar untuk makan malam dan mencari penginapan lagi. Kami pilih Denpasar sebagai tempat istirahat, karena Denpasar berada di tengah, dan bila kita mau ke tempat wisata sangat mudah untuk menentukan arahnya. Kembalilah kami ke terminal Ubung yaitu daerah penginapan sebelumnya tetapi beda gang. Disini kami mendapatkan penginapan cuma 75 ribu/kamar dan boleh diisi maksimal 3 orang. Tak apalah, karena kita tidak seharian di kamar saja, pagi-pagi sekali kita harus berjalan dan larut malam kita baru kembali pulang.

Hari Keempat

Tujuan pagi ini ke daerah Danau Beratan tepatnya di Pura Ulun Danu Beratan atau banyak disebut daerah Bedugul. Kalau kalian perhatikan uang pecahan 50 ribu, disitu terdapat foto pura yang berada di pinggir danau Beratan. Disini kita bisa menikmati udara yang dingin, rumput dan pepohanan hijau yang rimbun dan pastinya warung makan muslim bahkan di tempelnya stiker halal.. hehe.. senangnya.

baliku_04

Ternyata waktu berjalan dengan singkat, sehingga kami bergerak ke arah ubud, dimana kita bisa mengunjungi beberapa tempat wisata disini. Ada air terjun, pemandian kerajaan, backpacker area dan hutan monyet yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Tapi kami memilih mengunjungi tempat wisata yang lain yaitu museum Antonio Blanco. Sebelumnya museum ini sebagai tempat tinggal dan galeri dari hasil lukisan Antonio Blanco yang menikah dengan perempuan Bali lalu menetap di pulau Bali hingga wafat. Sebagian lukisannya dipajang sebagai bentuk apresiasi dan kecintaannya pada seni lukis. Dan ada beberapa barang-barang peninggalan beliau yang unik dipajang di sisi bangunan museum.

20140322_131210

20140322_131000

Dari museum kami pindah ke lokasi lain yang dekat dengan daerah ubud yaitu pasar Sukowati. Walaupun jadwal pulang masih lama, apa salahnya jika kita mulai mencari lebih awal dan satu arah juga. Seperti orang kebayakan, pasar Sukowati menjadi tempat belanja oleh-oleh paling murah, mulai dari macam-macam baju kaos, batik Bali, kalung, gelang, topi, lukisan, kerajinan tangan, perlengkapan tidur, pernak pernik ruang tamu dan masih banyak lainnya. Asalkan pintar menawar dan tahu kualitas dari barang yang dibeli, gak akan menyesal deh belanja banyak disini.

Cukup sulit mencari makanan halal disini mungkin karena kita tidak tahu dan tidak yakin sama penjualnya, berlalulah kami menuju Denpasar dan makan siang di Mekdi.. hehehe.. akhirnya. Jam menunjukkan pukul 4 sore rasanya masih cukup waktu untuk bergerak ke pantai Tanah Lot kurang lebih 30 Km kearah Barat.

Pantai Tanah Lot menjadi destinasi semua wisatawan khususnya buat mereka yang mau menikmati matahari terbenam. Di waktu sore air laut surut sehingga kita bisa ke pulau yang ada dipinggir laut atau sekedar berfoto ria di sekitar batu karang yang amat luas ini. Jika kita memang berwisata sendiri tanpa ikut rombongan atau paket tour lainnya cobalah habiskan waktumu hingga matahari benar-benar terbenam dan melihat pertunjukkan Kecak Dance yang sering diadakan oleh pengelola tempat wisata ini.

20140322_182205

Memanfaatkan waktu berkunjung kalian tanpa harus dibatasi dengan padatnya lokasi yang harus dikunjungi semua dan berlari dengan waktu yang sangat terbatas. Rasanya liburan anda kurang menarik dan seolah-olah kita mengunjungi orang sakit yang punya keterbatasan waktu kunjungan.

Hari Kelima

Jam 05.00 wib langit masih gelap dan aktivitas orang-orang belum banyak, mobil kami sudah menyala dan siap untuk keliling lagi di pulau dewata ini. Karena teman baru datang, maka kami nikmati lagi pemandangan sunrise di pantai Sanur. Beruntunglah belum banyak pengunjung disini, parkiran kendaraan sangat mudah dan dermaga-dermaga untuk berfoto sangatlah sepi.

20140323_074249

Kalau kalian ke pulau Bali jangan lupa untuk belanja baju khas yang cuma diproduksi dan dijual di Bali. Kaos kata-kata Joger. Siapa yang tidak tau dengan kaos yang satu ini berarti dia memang belum pernah ke Bali. Kaos ini mencetak kata-kata yang baru dengan jumlah terbatas dan akan selalu keluar yang baru. Jadi kalau kita mau membeli kaos yang gambarnya sama di lain waktu, belum tentu mereka punya kaos yang sama.

20140323_110959

Tidak jauh dari toko Joger, kita bisa makan siang di warung makan yang menjual makanan halal dan murah.

Jam masih menunjukkan pukul 12.30 wib, rasanya tidak sah jika kita ke pulau Bali tidak menginjak pasir pantai Kuta yang terkenal itu. Walaupun panas terik, sepi pengunjung dan tidak bisa bermain air laut, namun  tidak masalah menikmati pantai Kuta ini. Hanya sekedar lewat, foto-foto sebentar terus jalan lagi.

baliku_23

Cuaca yang cukup panas membuat kita bergerak menuju jalan raya Ubud untuk sekedar mendinginkan suasana. Ada daerah yang bisa dibilang tempat wisata sepintas lalu, karena berada di pinggir jalan. Kami berhenti untuk menikmati pematang sawah yang luas dan berundak-undak berada persis di pinggir jalan raya. Memang disini cenderung banyak wisatawan asingnya daripada wisatawan lokal, karena di tempat asal negara mereka belum tentu ada petak sawah.

baliku_09

Sorepun hampir habis tetapi kami masih belum puas berjalan dan akhirnya kami mencoba lagi menikmati malam di daerah Ubud. Di Ubud banyak sekali turis asing yang tinggal lama disini, karena udaranya yang bersih, tata ruang pemukiman yang rapi dan banyak pagelaran adat budaya yang sering ditampilkan. Berjalan kaki berkeliling di pusat kota Ubud terasa berbeda, ada jejeran toko dan cafe yang bergaya eropa dan tropis, penginapan dan hotel yang berada di tepian sungai serta lingkungan yang sangat bersih.

Beruntunglah kami malam ini masih ada pagelaran tarian Bali yang diadakan oleh salah satu sanggar. Ada ibu-ibu yang mencoba menawarkan tiket masuk kepada kami dengan harga tiket lokal 80rb / orang. Wahh.. mahal juga.. fikir kami. Kami beranikan diri untuk tawar menawar harga dengan alasan bahwa kami dari Sumatera, jauh di Barat sana. Sedikit merayu, akhirnya kami diberi diskon gratis untuk 1 orang. Lumayan.

Baru kali ini juga Saya melihat langsung tarian Bali lebih dekat dengan alunan musik yang langsung di tabuh dari pemusik dan tanpa panggung yang tinggi, sehingga lebih dekat dengan para penonton. Tak terasa durasi 50 menit terselesaikan dengan tarian yang apik sekali menutup liburan kita hari ini.

baliku_24

baliku_25

Hari Keenam

Tak terasa sudah masuk hari keenam saya berada di Bali, karena rata-rata wisatawan lokal hanya 3 hari berada di pulau dewata ini. Sebenernya karena kita mengikuti jadwal tiket promo nya pesawat terbang. Hehe..

Hari terakhir ini kami habiskan berwisata kearah selatan dan diawali dengan pantai yang paling ujung, yaitu pantai Uluwatu. Pantai Uluwatu hanya bisa dinikmati dari atas tebing saja, karena di tempat ini berdiri pura yang berusia sangat tua sekali dan banyak sekali monyet-monyet berkeliaran. Tidak sah jika ke pulau Bali tidak datang kesini apalagi sampai tidak ada foto di tempat ini. Kebetulan di hari senin ini sepi pengunjung, jadi kita bisa berfoto ria dimana saja dan kapan saja.

20140324_102332

baliku_13

Berdekatan dengan Uluwatu ada pantai yang baru saja di kenal oleh wisatawan namanya Padang Padang Beach. Pantai ini tidak terlalu luas berada di bawah tebing jalan dan jembatan. Tetapi pantai ini banyak sekali dinikmati oleh turis asing untuk berendam air laut dan berjemur di pasir pantai yang halus.

20140324_114024

baliku_14

Dan masih mengejar pantai-pantai yang ada di Uluwatu, kami mencari pantai Pandawa yang merupakan pantai terbaru juga. Baru saja masuk di kawasan ini, kita disuguhkan tebing-yebing batu yang sengaja dikikis oleh alat berat. Biru langit dan teriknya matahari menemani kami menikmati patung-patung besar sepanjang jalan masuk ke pantai. Kamipun berhenti sejenak untuk makan siang yang sudah kami bawa sebelumnya. Karena kuatir tidak bisa menemukan rumah makan yang halal.

baliku_16

20140324_132135

Masih ada separo waktu di siang ini, kami berpindah tempat ke tempat wisata berikutnya Taman Garuda Wisnu Kencana. Dahulu ada sebuah rencana besar tentang akan didirikannya patung raksasa yang tinggi dan besarnya akan mengalahkan patung Liberty yang ada di Amerika. Patung yang disimbolkan sebagai dewa Wisnu yang menunggangi burung garuda raksasa. Ada beberapa bagian patung yang sudah dibuat seperti Kepala dewa wisnu, kepala burung garuda dan sepotong tangan dari sang dewa. Dan hamparan taman rumput hijau serta potongan-potongan tebing menjulang tinggi yang mungkin akan dilanjutkan pembangunannya atau berhenti sampai disini.

20140324_150659

baliku_28

Sorepun datang, kami mengunjungi salah satu masjid di kawasan Dreamland. Setelah istitahat dan sholat, kami bergegas ke pantai dreamland untuk menikmati sunset dan pasir pantai yang bersih. Dreamland adalah tempat liburan terakhir kami, dengan habisnya bias matahari di ujung barat memaksa kami untuk kembali pulang.

Masjid di daerah Dreamland
Masjid di daerah Dreamland
Ini dia pantai dreamland
Ini dia pantai dreamland

Hari terakhir

Pagi terakhir di Denpasar dan sempitnya waktu untuk mengunjungi tempat lain lagi, membuat kami bergerak ke bandara Ngurah Rai. Dan jam 9.00 wib Saya sudah berjanji untuk mengembalikan kendaraan sewaan kami di bandara. Selesai chek in dan makan di bandara, panggilan untuk naik pesawatpun terdengar tanda untuk kembali pulang..

Selamat tinggal dan sampai jumpa lagi pulau Bali. Perjalanan kami pulang ke Lampung masih jauh, bahkan masih bisa cari oleh-oleh khas Bandung dulu.

“Suatu saat nanti Saya akan kembali ke Bali lagi, karena masih banyak tempat wisata yang belum sempat didatangi”.. (tri)

Iklan